Cocokologi Al Qur’an

Share This Post

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita seringkali direspon oleh sebagian kalangan dengan menyesuaikan atau mencocokkan pada al Qur’an. Terkait fenomena tersebut dipadankan pada hari dan tanggal atau dipadankan pada angka yang terkait dengannya, kemudian dicocokkan dengan nomor urut surat pada al Qur’an dan angka selanjutnya pada ayat surat tersebut.  Atau memadankan istilah yang hampir serupa pada pelafalan dalam al Qur’an. Hasilnya oleh sebagian masyarakat cenderung akan diimani atau diyakini sebagai sebuah jawaban dari fenomena terkait. Hal ini diistilahkan dengan cocokologi al Qur’an atau ada yang menamainya cocoklogi, sedang orang jawa sendiri menyebutnya dengan ‘otak-atik mathuk’.

Berbagai fenomena

Beberapa contohnya adalah terkait virus Corona 19 dan pengisolasian diri. Pada surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan pula istilah Qorna. Ada juga yang sempat mengaitkannya dengan salah satu isi yang ada di dalam Iqra, seperti Qa Ra Na, Kha La Qa, Za Ma Na, Ka Dza Ba, yang mereka artikan dengan virus Corona diciptakan di zaman yang penuh kedustaan.

Ada juga cocokologi suatu kejadian masa kini dengan ayat al-Qur’an. Misalnya, saat ada kejadian besar maka dicocokkan tanggal kejadian itu dengan surat dan ayat al-Qur’an. Misalnya saat Tsunami Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember. Maka dicocokkan dengan ayat ke ayat ke 26 surat ke 12. Suatu kejadian demo, karena bertepatan dengan tanggal 11 bulan 4 maka dicocokkan dengan ayat ke-11 surat ke-4. Begitu seterusnya dan dicari-cari kecocokan pembenarnya dari al-Qur’an.

Pemaksaan tafsir

            Fenomena cocokologi al qur’an pada dasarnya merupakan praktif pemaksaan tafsir pada al qur’an. Cara menafsirkan seperti di atas jelas adalah cara yang keliru yang tidak pernah dicontohkan oleh salafush shalih. Tentu cara penafsiran dengan logika seperti ini tercela. Ibnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al-Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:11).

Bahkan Ustadz Yusuf abu Ubaidah mengistilahkannya dengan khurafat gaya baru yakni menyamakan al Qur’an sebagai kitab ramalan. Jika kita mempercayai konsep cocokologi dengan al Qur’an maka kita sama halnya telah berlaku khurafat. Sebuah konsep kisah dusta dengan dibumbui dalil Al Qur’an.

Cara seperti ini jelas tidak boleh, bahkan ini termasuk mempermainkan dalil dan khurofat. Metode seperti ini tidak pernah dikenal oleh para ulama salaf dalam berdalil, bahkan ini adalah ciri khas ahli khurofat.

Maka berhati-hatilah. Jika kita tidak setuju, maka ingkarilah secara ilmiah, santun dan hikmah, bukan dengan kejahilan dan yang cacat seperti itu. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua kepada jalan yang lurus.

Sikap atas cocokologi al Qur’an

Ustadz Ahmad Sarwat menuliskan beberapa beberapa hal terhadap praktik cocokologi tafsir:

Pertama, dilihat dari status penafsir. Jika yang menafsirkannya adalah mufassir yang dikenal keilmuannya di dunia ilmu tafsir, tentu dapat dipertimbangkan penafsirannya dan bisa menerima. Akan tetapi jika penafsirnya anonym, tidak jelas identitasnya, hanya kata si anu, sebatas qila wa qala, maka kita harus hati-hati dan waspada. Jangan-jangan ini merupakan tafsir yang mengada-ada atau cocokologi tafsir. 

Kedua, umumnya cocokologi tafsir tampak heboh dan atraktif, karena kebutuhannya memang sekedar untuk aksi-aksi panggung semata.

Ketiga, tidak berdasarkan al-Qur’an dan tafsir yang mu’tabar. Ini dapat kita kenali dengan membandingkan penafsiran itu dengan apa yang sudah diyakini kebenarannya di dalam Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Wallahua’lambishshowab.

More To Explore

cerita hikmah

4 Golongan Manusia Ketika Menghadap Allah di Akherat

Orang-orang yang didekatkan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah orang-orang yang suka berbuat kebaikan (ahlul ihsaan). Inilah kedudukan tertinggi seseorang di sisi Allah Ta’ala. Mereka adalah

Bersama Koinmu,
Darul Hisan Hadir untuk Ummat