Merebaknya Fenomena Flexing: Belajar dari Kisah Tragis Qarun

Share This Post

Fenomena flexing atau pamer kekayaan kini kian marak di media sosial. Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, perilaku ini bahkan kerap dipertontonkan oleh pejabat publik. Padahal, sikap pamer ini bukan hanya memicu kecemburuan sosial, tetapi juga mengikis kepercayaan masyarakat dan merusak nilai-nilai rendah hati.

Apa Itu Flexing di Era Digital?

Di media sosial, flexing sering kali dibungkus dengan narasi “motivasi”. Beberapa contoh nyata yang sering kita temui antara lain:

  • Memamerkan mobil mewah dengan caption “Kerja keras tak akan mengkhianati hasil.”
  • Unggahan foto liburan ke luar negeri setiap minggu dengan gaya hidup glamor.
  • Menunjukkan saldo rekening atau nota belanja dengan nominal yang fantastis.

Dampak Negatif Perilaku Flexing

Perilaku pamer ini membawa dampak buruk bagi pelaku maupun orang yang melihatnya, di antaranya:

  1. Tekanan Sosial: Memicu rasa rendah diri dan rasa minder bagi orang lain.
  2. Gaya Hidup Boros: Mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif demi pengakuan sosial.
  3. Kesenjangan Sosial: Memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin, serta meningkatkan risiko keamanan diri.
  4. Dunia Palsu: Menjerumuskan seseorang pada pencitraan berlebihan yang menjauhkan dari kejujuran.

Kisah Qarun: Ibrah Tentang Kesombongan Harta

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengabadikan kisah Qarun, sosok yang tenggelam karena kesombongannya. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa pamer harta bukanlah tanda keberuntungan, melainkan jalan menuju kehancuran jika tidak disyukuri dengan benar.

Gaya “Flexing” Qarun dalam Tafsir Ibnu Katsir

Dikisahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, suatu hari Qarun keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mencolok. Ia memamerkan kemewahan dan kemegahannya dengan kendaraan megah, pakaian mewah, serta iringan para pelayan dan pengikut yang banyak.

Melihat kemewahan tersebut, manusia terbagi menjadi dua golongan:

  • Golongan Pertama: Mereka yang tergiur duniawi dan berkata, “Wah, andaikan kita memiliki apa yang dimiliki Qarun… sungguh dia orang yang sangat beruntung.” Mereka menganggap nasib baik diukur dari harta benda.
  • Golongan Kedua: Mereka yang memiliki ilmu dan keimanan. Mereka menyadari bahwa kenikmatan dunia itu fana dan hanya sementara.

Akhir yang Tragis

Kesombongan Qarun berakhir dengan azab. Allah SWT berfirman:

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang (dapat) membela dirinya.” (QS. Al-Qashash: 81)


Penutup: Harta Sebagai Amanah, Bukan Kebanggaan

Harta sejatinya bukanlah untuk disombongkan, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Fenomena flexing yang terjadi saat ini merupakan pengingat bagi kita semua agar tidak menjadi “Qarun modern” yang tenggelam dalam kesombongan.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita agar tetap rendah hati, mensyukuri setiap nikmat, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.

More To Explore

Bersama Koinmu,
Darul Hisan Hadir untuk Ummat