Perjalanan spiritual seseorang seringkali dimulai dari sebuah pencarian intelektual yang mendalam. Inilah yang dialami oleh Abdur-Raheem Green, seorang dai terkemuka asal Inggris yang kisahnya menginspirasi banyak orang di seluruh dunia. Green, yang memiliki latar belakang pendidikan Katolik Roma yang kuat, akhirnya memilih Islam sebagai pelabuhan terakhirnya.
Bagaimana lika-liku perjalanannya? Simak ulasan lengkap berikut ini.
Siapa Abdur-Raheem Green?
Lahir dengan nama Anthony Green di Darussalam, Tanzania pada tahun 1964, ia merupakan putra dari Gavin Green, seorang administrator kolonial Inggris. Tumbuh dalam lingkungan keluarga kelas atas, Green mendapatkan pendidikan eksklusif di Ampleforth College (sebuah sekolah monastik Katolik Roma) dan sempat melanjutkan studi sejarah di Universitas London.
Meskipun hidup dalam kecukupan, Green merasakan ada kekosongan spiritual yang tidak bisa dijawab oleh latar belakang pendidikannya.
Titik Balik: Kekecewaan Terhadap Konsep Trinitas
Salah satu alasan utama Green meninggalkan keyakinan lamanya adalah ketidakpuasan intelektual terhadap konsep ketuhanan. Sejak usia delapan tahun, ia merasa ada yang janggal dengan beberapa doktrin, di antaranya:
- Logika Trinitas: Green merasa konsep satu Tuhan dalam tiga pribadi sulit diterima oleh akal sehat.
- Paradoks Penyaliban: Ia mempertanyakan konsep Tuhan yang harus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Baginya, konsep tersebut kontradiktif dengan sifat keabadian Tuhan.
- Sistem Pendidikan Eurosentris: Green merasa sejarah yang diajarkan di Barat cenderung bias dan mengabaikan peran besar peradaban lain, termasuk Islam.
Pencarian Melalui Berbagai Ajaran
Sebelum memeluk Islam, Green sempat mengeksplorasi berbagai filsafat dan agama. Ia bahkan pernah mempraktikkan ajaran Buddha selama hampir tiga tahun. Namun, ketenangan yang ia cari tetap belum ditemukan secara utuh.
Hingga akhirnya, saat sedang berlibur di Mesir, ia berdiskusi dengan warga lokal. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari warga Mesir tersebut justru membuatnya semakin menyadari keraguan dalam dirinya terhadap dogma-dogma lama yang ia pegang.
Menemukan Kedamaian dalam Al-Qur’an
Green kemudian mulai mempelajari Al-Qur’an secara mendalam. Ia terpesona oleh:
- Pesan Tauhid yang Murni: Konsep Tuhan yang satu dan tidak terbatas sangat masuk akal baginya.
- Kekuatan Magis Al-Qur’an: Meski awalnya ia membaca secara kritis, pesan-pesan di dalamnya menyentuh sisi emosional dan spiritualnya.
- Realitas Sosial di Mesir: Green membandingkan masyarakat Mesir yang meskipun hidup dalam kesulitan ekonomi, tetap terlihat bahagia dan berserah diri kepada Tuhan. Hal ini kontras dengan kehidupan di Inggris yang materialistis namun terasa hampa.
“Green merasa bahwa hanya Allah yang membimbingnya dalam perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa memeluk Islam adalah takdirnya, dan tidak ada alasan baginya untuk menolak agama ini.”
Menjadi Penggerak Dakwah di Inggris
Abdur-Raheem Green akhirnya resmi memeluk Islam pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah. Ia dikenal sebagai aktivis dakwah di Hyde Park, London, dan menjadi salah satu pendiri Islamic Education and Research Academy (iERA).
Kisah Abdur-Raheem Green mengajarkan kita bahwa hidayah seringkali datang kepada mereka yang terus bertanya, membaca, dan membuka hati terhadap kebenaran yang logis.

