Ruwaibidhah di Tahun-Tahun Penuh Penipuan: Ketika Orang Tak Berkompeten Menguasai Urusan Publik

Share This Post

Di era modern, informasi menyebar begitu cepat. Hampir setiap orang dapat menyampaikan pendapat, memberikan penilaian, bahkan memengaruhi opini publik hanya melalui media sosial. Di balik kemudahan tersebut, Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan tentang fenomena yang akan muncul menjelang akhir zaman, yaitu munculnya ruwaibidhah.

Fenomena ini bukan sekadar tentang banyaknya orang berbicara, tetapi tentang orang yang tidak memiliki kapasitas, ilmu, maupun amanah justru menjadi rujukan dalam urusan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Inilah salah satu tanda zaman yang patut menjadi renungan bagi setiap muslim.


Apa Itu Ruwaibidhah?

Secara bahasa, ruwaibidhah berasal dari bahasa Arab yang menggambarkan seseorang yang hina, lemah, atau tidak memiliki kapasitas. Dalam penjelasan para ulama, istilah ini merujuk kepada:

“Orang bodoh atau orang yang tidak memiliki kompetensi namun berbicara dan mengurus perkara-perkara umum.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang tahun-tahun penuh penipuan. Saat itu pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang amanah dianggap berkhianat, dan ruwaibidhah berbicara.”

Ketika para sahabat bertanya, “Siapakah ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab:

“Orang bodoh yang berbicara mengenai urusan masyarakat.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)


Tahun-Tahun Penuh Penipuan

Hadis di atas menggambarkan kondisi ketika nilai-nilai kebenaran mengalami pembalikan.

Di antaranya:

  • Pendusta dianggap paling dapat dipercaya.
  • Orang jujur justru dicurigai.
  • Pengkhianat memperoleh amanah.
  • Orang amanah malah disingkirkan.
  • Orang yang tidak memiliki ilmu atau kompetensi berbicara dan menentukan arah urusan publik.

Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kepemimpinan, tetapi juga dapat terjadi dalam bidang agama, pendidikan, sosial, ekonomi, bahkan penyebaran informasi di media digital.


Penjelasan Para Ulama

Syekh Yusuf Al-Wabil dalam Asyrath as-Sa’ah menjelaskan bahwa kemunculan ruwaibidhah merupakan salah satu tanda kecil datangnya kiamat.

Imam Ibnu Baththal juga menerangkan bahwa ketika ilmu agama mulai dicabut dengan wafatnya para ulama, manusia kemudian mengangkat pemimpin dari kalangan yang tidak memiliki ilmu sehingga mereka memberi fatwa tanpa dasar yang benar. Akibatnya mereka sesat sekaligus menyesatkan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)


Bahaya Ketika Amanah Diserahkan Bukan Kepada Ahlinya

Islam sangat menekankan pentingnya menempatkan amanah kepada orang yang memiliki kemampuan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.”

Ketika para sahabat bertanya bagaimana amanah disia-siakan, beliau menjawab:

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.” (HR. Bukhari)

Pesan ini menjadi pengingat bahwa kompetensi, integritas, dan ilmu merupakan syarat penting dalam memegang tanggung jawab.


Pelajaran untuk Umat Islam

Fenomena ruwaibidhah hendaknya menjadi bahan introspeksi, bukan alasan untuk mudah menghakimi orang lain. Beberapa sikap yang perlu kita jaga antara lain:

  • Menuntut ilmu agama dari guru yang memiliki keilmuan yang benar.
  • Tidak mudah berbicara mengenai perkara yang tidak dipahami.
  • Mengutamakan adab sebelum menyampaikan pendapat.
  • Memilih pemimpin, pendidik, dan tokoh berdasarkan ilmu, amanah, serta akhlaknya.
  • Memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama di media sosial.

Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan memiliki tanggung jawab. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak termasuk orang yang berbicara tanpa ilmu.


Penutup

Hadis tentang ruwaibidhah bukan sekadar ramalan mengenai akhir zaman, tetapi merupakan peringatan agar umat Islam senantiasa menjaga amanah, menghormati ilmu, dan menyerahkan setiap urusan kepada ahlinya.

Di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya setiap orang berbicara di ruang publik, kita dituntut untuk lebih bijaksana dalam memilih sumber ilmu, menjaga lisan, serta tidak tergesa-gesa memberikan pendapat pada perkara yang belum kita kuasai.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai ilmu, menjaga amanah, serta selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.

More To Explore

Bersama Koinmu,
Darul Hisan Hadir untuk Ummat