Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan dengan sebuah video yang memperlihatkan para pengendara menyiram roda kendaraan mereka menggunakan air yang berada di gerbang sebuah desa di Kabupaten Semarang. Tradisi tersebut dilakukan oleh sebagian masyarakat yang meyakini bahwa air tersebut dapat membawa keberkahan, keselamatan perjalanan, atau menghindarkan dari musibah.
Fenomena ini kemudian memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Ada yang menganggapnya sebagai tradisi turun-temurun yang perlu dilestarikan, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan praktik tersebut dari sisi agama maupun logika ilmiah.
Dalam Islam, setiap tradisi perlu ditimbang berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Begitu pula dari sisi ilmiah, sebuah keyakinan perlu didukung oleh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tradisi Air dan Kepercayaan Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa sejak dahulu memiliki berbagai tradisi yang berkaitan dengan sumber mata air. Di wilayah Kabupaten Semarang sendiri dikenal beberapa tradisi seperti Susuk Wangan, yaitu kegiatan membersihkan sumber air sekaligus bentuk rasa syukur atas nikmat air yang diberikan Allah SWT. Tradisi tersebut pada dasarnya bertujuan menjaga kelestarian lingkungan dan mempererat kebersamaan masyarakat.
Namun demikian, tradisi yang bertujuan menjaga lingkungan berbeda dengan keyakinan bahwa suatu air tertentu memiliki kekuatan gaib yang mampu menolak bala atau mendatangkan keselamatan. Ketika sebuah benda atau media diyakini memiliki kekuatan di luar ketentuan Allah SWT, maka hal tersebut perlu dikaji secara serius menurut syariat Islam.
Pandangan Islam tentang Ritual Tolak Bala
Dalam ajaran Islam, perlindungan, keselamatan, dan keberkahan hanya berasal dari Allah SWT. Seorang muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah, memperbanyak doa, dzikir, serta menjalankan syariat-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”
(QS. Al-Jin: 6)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah merupakan perbuatan yang menyimpang dari tauhid.
Apabila seseorang meyakini bahwa air tertentu dapat memberikan keselamatan secara mandiri atau memiliki kekuatan gaib yang tidak bersumber dari ketentuan Allah, maka keyakinan tersebut dapat mengarah kepada kesyirikan.
Para ulama juga menjelaskan bahwa segala bentuk jimat, ritual tolak bala, maupun keyakinan terhadap benda-benda tertentu yang tidak memiliki dasar syariat termasuk perkara yang harus dihindari oleh seorang muslim.
Apakah Menyiram Roda Kendaraan Bisa Mendinginkan Rem?
Sebagian orang mencoba memberikan penjelasan bahwa ritual tersebut dilakukan untuk mendinginkan rem kendaraan setelah melewati jalan menurun yang panjang.
Namun para ahli otomotif justru memperingatkan bahwa menyiram rem atau roda yang masih panas dengan air dapat menimbulkan risiko tertentu. Perubahan suhu yang terlalu cepat berpotensi menyebabkan komponen rem mengalami perubahan karakteristik atau bahkan kerusakan pada kondisi tertentu.
Cara yang lebih aman adalah membiarkan kendaraan beristirahat sejenak hingga suhu rem turun secara alami sebelum melanjutkan perjalanan.
Dengan demikian, jika tujuan penyiraman adalah demi keselamatan berkendara, maka pendekatan teknis dan edukasi keselamatan lalu lintas jauh lebih tepat dibandingkan mengaitkannya dengan unsur-unsur mistis atau keyakinan gaib.
Bedakan Tradisi Budaya dan Keyakinan Aqidah
Islam tidak melarang budaya atau tradisi selama tidak bertentangan dengan syariat. Banyak tradisi lokal yang berisi nilai gotong royong, menjaga lingkungan, serta mempererat persaudaraan yang dapat diterima.
Namun ketika sebuah tradisi mengandung keyakinan bahwa benda, tempat, atau air tertentu memiliki kekuatan supranatural untuk mendatangkan keselamatan, keberuntungan, atau menolak musibah tanpa dalil yang sah, maka seorang muslim wajib berhati-hati.
Prinsip tauhid mengajarkan bahwa:
- Keselamatan berasal dari Allah SWT.
- Rezeki berasal dari Allah SWT.
- Keberkahan berasal dari Allah SWT.
- Perlindungan dari bahaya hanya datang atas izin Allah SWT.
Karena itu, setiap muslim hendaknya menghindari praktik-praktik yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah.
Cara Memohon Keselamatan dalam Islam
Jika ingin memperoleh keselamatan dalam perjalanan, Islam telah mengajarkan berbagai amalan yang jelas dan bersumber dari sunnah Rasulullah ﷺ, di antaranya:
1. Membaca Doa Safar
Doa perjalanan merupakan bentuk tawakal dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
2. Berdzikir dan Bertawakal
Seorang muslim dianjurkan memperbanyak dzikir serta mengingat Allah dalam setiap aktivitas.
3. Memastikan Kendaraan Layak Jalan
Keselamatan juga harus diiringi dengan ikhtiar, seperti memeriksa kondisi rem, ban, lampu, dan komponen kendaraan lainnya.
4. Mematuhi Aturan Lalu Lintas
Menjaga keselamatan diri dan orang lain merupakan bagian dari ajaran Islam.
Kesimpulan
Ritual penyiraman roda kendaraan dengan air yang dianggap memiliki tuah atau kekuatan khusus tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam maupun bukti ilmiah yang kuat. Jika ritual tersebut diyakini dapat menolak bala, mendatangkan keselamatan, atau memberikan perlindungan gaib, maka keyakinan tersebut berpotensi mengarah pada praktik khurafat dan penyimpangan aqidah.
Sebagai muslim, kita diajarkan untuk menggantungkan harapan, perlindungan, dan keselamatan hanya kepada Allah SWT, disertai ikhtiar yang benar sesuai syariat dan ilmu pengetahuan.
Mari menjaga kemurnian tauhid serta melestarikan budaya dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Wallahu a’lam bish-shawab.

