Semarang – Hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui jalan yang tidak pernah disangka. Kisah Profesor Atsushi Kamal Okuda menjadi salah satu cerita inspiratif tentang bagaimana pencarian kebenaran dapat mengantarkan seseorang menemukan cahaya Islam.
Sebelum mengenal Islam, Okuda dikenal sebagai seorang akademisi asal Jepang yang memiliki pandangan ateis. Ia terbiasa memandang kehidupan melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan pemikiran akademis. Namun, perjalanannya dalam mempelajari berbagai agama justru membawanya pada sebuah kesimpulan yang mengubah hidupnya: Islam memiliki jawaban mendalam tentang kehidupan dan keberadaan Tuhan.
Berawal dari Keraguan terhadap Agama
Sebagai seorang akademisi, Okuda memiliki ketertarikan besar terhadap berbagai bidang keilmuan, mulai dari hubungan internasional, teori hukum dan sejarah, hingga pendidikan bahasa asing serta studi keagamaan.
Selama bertahun-tahun, ia menaruh perhatian pada penelitian tentang hukum Islam. Ketertarikan tersebut membuatnya semakin mendalami ajaran Islam, termasuk konsep tauhid atau keesaan Allah SWT.
Pada awalnya, Okuda tidak serta-merta menerima ajaran Islam. Ia justru berusaha mempelajarinya secara kritis dan mendalam. Ia ingin memahami bagaimana Islam menjawab berbagai persoalan kehidupan manusia, termasuk persoalan hukum dan moralitas.
Dalam proses tersebut, ia menemukan bahwa Islam menawarkan pandangan yang komprehensif mengenai kehidupan manusia dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Membaca Al-Qur’an dan Menemukan Jawaban
Salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual Okuda adalah ketika ia mulai mempelajari Al-Qur’an.
Ayat-ayat Al-Qur’an memberikan perspektif baru tentang penciptaan manusia, alam semesta, serta tujuan kehidupan. Salah satu ayat yang menarik perhatiannya terdapat dalam Surah Al-Hijr ayat 26, yang menjelaskan tentang penciptaan manusia dari tanah.
Bagi Okuda, ayat tersebut menjadi bagian dari proses pencarian intelektual dan spiritual yang semakin mendalam.
Ia juga tertarik pada penjelasan Al-Qur’an mengenai asal-usul manusia. Baginya, pembahasan tersebut menghadirkan pertanyaan dan perenungan yang tidak cukup dijawab hanya melalui pendekatan akademis.
Semakin jauh ia mempelajari Islam, semakin besar pula ketertarikannya untuk memahami ajaran tersebut secara utuh.
Dari Seorang Ateis Menjadi Muslim
Perjalanan Okuda akhirnya membawanya pada keputusan besar dalam hidupnya. Pada tahun 2016, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Dalam kisahnya, Okuda mengungkapkan bahwa sebelum mengenal Islam, hidupnya terasa berjalan tanpa arah yang jelas. Ia tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas berbagai pertanyaan mendasar tentang kehidupan dan keberadaan Tuhan.
Namun, setelah mempelajari Islam, ia merasakan perubahan besar dalam dirinya.
Islam tidak hanya memberikan jawaban atas pertanyaan intelektual yang selama ini ia renungkan, tetapi juga menghadirkan makna dan tujuan hidup yang lebih jelas.
Islam, Ilmu Pengetahuan, dan Pencarian Kebenaran
Kisah Profesor Okuda memberikan pelajaran bahwa pencarian ilmu pengetahuan dan pencarian kebenaran spiritual tidak harus saling bertentangan.
Ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan bagi manusia untuk memahami alam semesta, sementara agama memberikan panduan tentang makna kehidupan dan hubungan manusia dengan Allah SWT.
Al-Qur’an sendiri mengajak manusia untuk berpikir, memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, serta merenungkan penciptaan langit, bumi, dan kehidupan.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa hidayah merupakan anugerah Allah yang dapat diberikan kepada siapa saja. Seseorang yang sebelumnya jauh dari agama sekalipun dapat menemukan jalan menuju Islam melalui proses pencarian, pembelajaran, dan perenungan.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan
Kisah perjalanan Profesor Atsushi Kamal Okuda menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak berhenti mempelajari dan memahami Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi juga petunjuk kehidupan yang mengajarkan manusia tentang keimanan, akhlak, ilmu pengetahuan, dan hubungan antarsesama.
Jika seorang akademisi yang berasal dari lingkungan berbeda saja terdorong untuk mempelajari Islam secara mendalam, sudah semestinya umat Islam sendiri semakin dekat dengan kitab sucinya.
Sebab, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia. Semakin kita membaca, memahami, dan mengamalkannya, semakin besar kesempatan kita untuk menemukan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah, menguatkan keimanan, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.

