Tips Berbagi Ala Pengusaha Kaya Grobogan, Joko Suranto

Share This Post

Berbagi memang sangat umum di telinga kita. Istilah itu bahkan begitu menggemanya hingga banyak orang menggaungkan sebagai kalimat ajakan positif. Bahkan Indonesia tahun lalu pernah dinobatkan sebagai negara dengan masyarakat paling dermawan secara global. Tentu sebuah prestasi yang luar biasa.

Secara umum masyarakat kita berbagi dengan uang-uang yang cenderung tidak menjadi prioritas, namun lebih pada bagian yang kurang berarti seperti receh, maksimal besaran umumnya puluhan ribu. Tak mengapa, sebab itu sudah berarti sekali daripara tidak bersedekah sama sekali. Tentu kebanyakan orang tidak berpikir untuk bersedekah dalam jumlah besar, bahkan fantastis. Maka bila ada seseorang yang dengan ringannya bersedekah besar, akan menjadi sorotan.

Ya, itulah yang terjadi pada pria pengusaha kaya asal Grobogan Jawa Tengah yang belum lama ini bersedekah senilai 2,8 miliar, Joko Suranto. Ia membangun jalan desanya sendiri di kampung halaman setelah 10 tidak kunjung ada perbaikan jalan. Kini jalan sejauh 1.8 km di Desa Jetis, karangrayung, Grobogan tersebut sudah mulus layaknya jalan umum perkotaan. Warga pun bersuka cita atas sedekah dari penguasha yang saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Real Eastet Indonesia (REI) Provinsi Jawa Barat ini. Kita pun dibuat geleng geleng, sedekah kok sebanyak itu. Kok bisa?

Jangan Tunggu Kaya

Dalam kesempatan lain Joko Suranto membagikan tips berbagi ke sesama tanpa perlu menunggu sampai kaya dulu. Joko menceritakan bagaimana jiwa berbagi bisa melekat dalam dirinya. Dia menyebut bahwa berbagi bukan masalah seberapa besar angka yang diberi namun diniatkan untuk sedekah. 

“Kuncinya yakin, fokus, serius, dan konsisten. Ketika mulai berbagi tak harus menunggu kaya. Ungkapan itu hanyalah omong kosong. Kalau nunggu kaya dulu itu pasti eman-eman,” ujar Joko secara daring di acara Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Kamis (12/5/2022 kemarin).

Menurutnya, untuk memulai berbagi hal terpenting adalah menetapkan hati untuk berbagi.  Sehingga jika dikerjakan karena itu yang membuat kita senantiasa berbagi. “Hanya yang berjalan yang akan sampai,” ucapnya yang mengaku pernah berjualan koran ini.

Dia menyarankan kalau ingin berbagai maka mulai melatih diri agar muncul sikap konsisten. “Memang saat kita memulai melatih diri untuk berbagi itu berat. Tapi dari situ kita menjadi punya keyakinan, kita punya kedisiplinan terlebih dalam mengelola keuangan, dalam menata perilaku kita. Dengan berbagi jadi pengendalian diri, kita menjadi lebih berhemat,” jelasnya.

Dia pun mengungkapkan prinsip hidupnya yang harus berbagi dan memberi manfaat kepada sekitar. “Tidak boleh meminta. Serta jangan menjadikan hidup sebagai sebuah beban,” bebernya.

Dia mengaku bahwa sempat tak ikhlas ketika berlatih untuk berbagi. “Untuk bisa membiasakan berbagi, pertama menemukan jati diri. Kebesaran hati kamu, kepercayaan diri kamu seperti apa. Kedua lakukan yang terbaik untuk orang tua. Karena nantinya yang terbaik dalam hidup akan diberikan oleh Allah. Ketiga niatkan untuk berbagi. Keempat selalu berprasangka baiklah kepada siapapun,” katanya. Tapi dia yakin berbagi dengan tujuan hidup akan membantu fokus dalam bekerja secara sistematis. “Berbuat baik akan menjadi amal jariyah. Berlatih berbagi bisa kita mulai 1 minggu sadaqah Rp20.000 dalam 1 bulan. Kemudian terus ditambah misalnya saja 2 kali lipat dan dilakukan secara konsiten. Awalnya memang terlihat susah, tetapi ketika sudah dikerjakan maka tidak akan ada yang susah,” pungkasnya.

More To Explore

Bersama Koinmu,
Darul Hisan Hadir untuk Ummat